BERKAH PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI BALIK BADAI CEMPAKA

Hits: 0

Badai Cempaka yang begitu dahsyat terjadi pada Bulan November 2017 membawa curah hujan sangat tinggi selama 2 hari  menjadikan rekor banjir terparah yang pernah dialami wilayah Gunungkidul. Geosite Ngingrong dengan kedalaman 100 meter yang biasanya kering mendadak penuh terisi air akibat meluapnya sungai bawah tanah. Kali Oyo yang merupakan sungai permukaan terbesar di Gunungkidul tak lagi mampu menampung debit air sehingga meluap memutuskan jalur transportasi di beberapa titik termasuk jalur utama Wonosari Yogya. Tercatat lebih dari 4 jembatan gantung hanyut, 2 jembatan besar rusak,  puluhan rumah rusak dan beberapa wilayah mengalami tanah longsor.

Seiring dengan besarnya dampak kerusakan maka dengan sigap pemerintah kabupaten dengan dikoordinasi Bappeda melakukan pengusulan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi kepada pemerintah pusat pendataan kerusakan.  Pada tahun 2018 mendapat kabar bahwa Gunungkidul mendapat alokasi rehab rekon yang cukup besar sebagaimana yang diusulkan. Rehabilitasi dan rekonstruksi beberapa jembatan di sungai Oyo dilakukan multiyear mulai tahun 2018 s/d 2020 .

Pada tgl 23/10/2020 Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda melakukan monitoring dan evaluasi hasil pembangunan rehab rekon yang sudah selesai dilaksanakan pada 3 jembatan yang berlokasi di Desa Katongan. Jembatan tersebut meliputi jembatan Jeruklegi, jembatan Teleng, dan Jembatan Margorejo. Jembatan Jeruklegi merupakan jembatan baru yang sebelumnya belum ada. Jembatan ini menghubungkan jalur jalan Katongan Watusigar dengan jalur jalan Nglipar Jatiayu. APBD Kabupaten Gunungkidul berperan penting dalam terwujudnya pembangunan jembatan Jeruklegi karena mengalokasikan pengadaan lahan untuk jalur jalan penghubung dikedua sisi jembatan. “Hasil pekerjaan konstruksi cukup bagus, selanjutnya akan kita upayakan peningkatan status jalan menjadi jalan Kabupaten” demikian disampaikan Kasubid Lingkungan Hidup dan Pekerjaan Umum Nurudin Araniri.  Pemanfaatan sisa tanah kanan kiri jalan agar bisa dijadikan ruang terbuka hijau dengan ditanami pepohonan yang sesuai.

Selanjutnya kunjungan ke Jembatan Teleng yang berlokasi ke arah hilir lebih kurang 2 km dari Jembatan Jeruklegi.  Konstruksi dan desain jembatan mendapat apresiasi yang baik. Pekerjaan dilakukan dengan hasil rapi, konstruksi kuat dan tertata dengan  baik. Apa yang kami lihat sangat berbeda jauh denga napa yang kami lihat saat melakukan identifikasi awal. Apbd Kabupaten juga berperan penting dalam mewujudkan jembatan Teleng ini, karena untuk meluruskan geometri jalan pemerintah kabupaten melakukan pembebasan lahan di sisi Timur jembatan seluas 500 meter persegi. Dengan pembebasan lahan tersebut menjadikan jembatan bergeser 30 meter pada sisi Timur untuk menghasilkan geometri jalan yang lurus dan aman bagi pengendara.

Terakhir monitoring dilakukan di Jembatan Margorejo yang terletak kearah hilir berjarak 3 km dari jembatan Teleng. Jembatan Margorejo menghubungkan jalan Kabupaten Ruas Nglipar Jatiayu. Jembatan Margorejo dibangun tahun 2019 murni dengan dana rehab rekon. Kondisi jembatan terbangun secara visual tampak kokoh, konstruksi kuat dan pekerjaan cukup rapi. Kelengkapan jembatan dan jalan juga telah dipasang berupa Marka jalan dan Penerangan jalan umum dibeberapa titik.

“Badai Cempaka memang mengerikan saat itu, tetapi beberapa pembangunan jembatan yang menelan dana puluhan miliar rupiah merupakan berkah bagi kita. Semoga infrastruktur yang telah terbangun bisa berfungsi dengan baik, terjaga dan terpelihara, serta membawa manfaat bagi masyarakat Gunungkidul” demikian disampaikan Nurudin Araniri saat mengakhiri monitoring.

(N/A, LHPU)