Gunungkidul Targetkan Air PDAM Dinikmati Semua Warga Tahun 2019

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menargetkan jaringan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) bisa dinikmati seluruh masyarakat mulai 2019 mendatang.

Secara bertahap, PDAM akan memperluas jaringan dengan memaksimalkan potensi air bersih yang ada.

Kepala Badan Perencanan Pembangunan Daerah ( Bappeda) Gunungkidul, Syarif Armunanto mengatakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ( RPJMD), pemerintah menargetkan seluruh warga sudah menikmati layanan air bersih.

Untuk mencapai apa yang sudah ditargetkan, pemerintah akan memaksimalkan potensi sungai bawah tanah sehingga jangkauan distribusinya lebih luas lagi.

“Kita akan maksimalkan potensi sungai bawah tanah seperti Bribin dan seropan. Mudah-mudahan 2019 mendatang seluruh warga bisa menikmati air bersih,” katanya akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, Gunungkidul memiliki potensi sungai bawah tanah yang cukup besar.

Ke depan, pemerintah akan berusaha semaksimal mungkin pemanfaatan air bawah tanah yang selama ini masih terkendala teknologi.

Dengan bertambahkan volume air sungai bawah tanah yang bisa dimanfaatkan, nantinya , jangkauan layanan baik dari PDAM maupun SPAMDes juga bisa lebih luas lagi.

Setelah pemanfaatan sungai bawah tanah bisa lebih maksimal, nantinya pemerintah daerah akan memaksimalkan peran dari PDAM serta keberadaan SPAMDes.

Pelayanan air bersih dari dua institusi tersebut akan diperbanyak secara bertahap sehingga ditargetkan pada 2019 sudah terlayani semua.

“Akan kita upayakan terus agar masyarakat memperoleh air bersih,” imbuhnya.

Sumber : http://jogja.tribunnews.com/

Gunungkidul Minta "BIG" Bantu Petakan Sungai Bawah Tanah

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan Badan Informasi Geospasial (BIG) membantu pemetaan sungai bawah tanah untuk mengatisipasi masalah kekeringan di wilayah setempat.

Sekretaris Daerah (Sekda) Gunungkidul Budi Martono di Gunungkidul, Minggu (16/8), mengatakan pihaknya sampai saat ini belum memiliki peta sungai di bawah tanah, padahal jika memiliki memudahkan mengeksploitasi air yang melimpah di perbukitan karst.

“Coba kalau kita punya, tinggal titik mana yang perlu dibor,” katanya.

Menurut dia, potensi air di Kabupaten Gunungkidul melimpah. Hal itu diketahui dari beberapa titik yang sudah dibor ternyata debit airnya melimpah. Namun diakuinya hal itu belum maksimal dalam pemanfaatan karena terbatas dana.

“Banyak potensinya, seperti di Ponjong itu selesai dibor airnya mancur ke atas tanpa menggunakan pompa,” katanya.

Selama ini, kata dia, upaya pemerintah untuk mengatasi kekurangan air masyarakat sudah dilakukan dengan cara memaksimalkan menyalurkan air dari PDAM melalui perpipaan yang sudah mencapai 60 persen dari total penduduk. Sementara itu, 20 persen lainnya melalui pamdes.

“Sisanya 20 persen belum teraliri PDAM maupun pamdes karena memang lokasi di perbukitan dan harganya mahal,” kata Budi.

Untuk upaya yang belum memiliki saluran ialah dengan membangun embung. Ke depan selain untuk pertanian embung digunakan untuk air minum dengan menempatkan mesin penjernih air. Selama ini embung yang sudah dibangun pemanfaatan air baru 30 persen.

“Air hujan juga baik untuk minum, tapi ditempatkan alat penjernih,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul Syarief Armunanto mengatakan sampai saat ini pihaknya belum mengetahui seperti apa nantinya mengenai pemetaan yang akan dilakukan.

“Memang belum dianggarkan dan jika memang ada, lebih baik pusat yang melakukan,” katanya.

Menurut dia, pemetaan sungai bawah tanah itu diperlukan untuk meningkatkan iklim investasi di Gunungkidul, yang selama ini memang terkendala dengan ketersediaan air.

“Pemetaan sungai itu sebenarnya diperlukan jika nantinya ada investor yang ingin menanamkan investasinya mengetahui titik mana yang bisa dilakukan pengeboran air,” kata Syarif.

sumber : http://www.beritasatu.com/