FGD Pengembangan Baseline Terintegrasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bribin secara Partisipatif

Pengembangan Baseline Terintegrasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bribin Secara Partisipatif

Kawasan bentang alam karst Gunung Sewu merupakan kawasan yang mempunyai nilai penting karena statusnya sebagai salah satu bentukan alam warisan dunia (World Natural Heritage) (Guntarto, 2003; KMNLH, 1999) serta sebagai bagian dari kawasan lindung nasional (Purnaweni, 2014). Pemerintah telah menetapkan kawasan bentang alam karst Gunung Sewu sebagai kawasan lindung geologi berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 3045 K/40/MEM/2014 (RI, 2014). Penunjukkan tersebut di satu sisi didasarkan pada adanya kekhasan dan keunikan komponen geologi, fungsinya sebagai pengatur alami tata air serta kandungan nilai ilmiahnya yang tinggi (RI, 2014).

Di sisi lain, penunjukkan tersebut disebabkan oleh banyaknya permasalahan yang terjadi pada kawasan karst ini, baik itu lahan (alih fungsi, lahan kritis, produktivitas rendah, erosi-sedimentasi), air (sedimentasi telaga, kekeringan, pencemaran air), biodiversitas (penurunan jumlah flora fauna), peternakan (kurangnya sediaan hijauan pakan ternak), penambangan batu gamping maupun sosial ekonomi (kemiskinan) dan kelembagaan yang dapat mengancam kelestarian kawasan bentang alam karst Gunung Sewu (Cahyadi, 2013; Ashari, 2012; Suryatmojo, 2006). Permasalahan yang dihadapi oleh DAS Bribin secara khusus di antaranya adalah alih fungsi lahan, penurunan produktivitas lahan, erosi sedimentasi, penurunan kualitas dan kuantitas air, serta penambangan, baik legal maupun illegal (BPDAS-SOP, 2013). Selain adanya permasalahan tersebut, DAS Bribin dengan karakteristik karstnya mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata alam (ekowisata), terutama dengan adanya daya tarik budaya, gua, telaga, air terjun, sungai bawah tanah, hutan, dan pantai.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut di atas dan untuk mengembangkan potensi wisata yang ada, maka diperlukan adanya data dan informasi terkini terkait karakteristik biofisik lahan, tata air dan sosial ekonomi kelembagaan di DAS Bribin, terutama pada desa terpilih yang mewakili daerah hulu, tengah dan hilir. Data dan informasi terkini yang diperoleh selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk memformulasikan strategi pengelolaan berkelanjutan dan pengembangan ekowisata di DAS Bribin. Saat ini data dan informasi terkait aspek biofisik lahan, tata air, dan sosial ekonomi kelembagaan DAS Bribin tersebar di berbagai instansi. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk mengumpulkan berbagai data dan informasi untuk dikelola dalam suatu manajemen basis data yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap pengelolaan DAS Bribin. Untuk memfasilitasi proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang relevan, CIFOR dan BPPTPDAS bekerjasama dengan Bappeda Kabupaten Gunungkidul bermaksud untuk mengadakan Focused Group Discussion Pengembangan Baseline Terintegrasi DAS Bribin secara partisipatif (biofisik lahan, tata air, dan sosial ekonomi kelembagaan).
Dalam sambutannya, Kepala Bappeda Kabupaten Gunungkidul Sri Suhartanta, SIP, M.Si. menyampaikan bahwa DAS Bribin memiliki banyak dinamika & isu strategis sehingga pemetaan potensi DAS Bribin akan sangat berpengaruh baik bagi pengelolaan dan pengembangan DAS Bribin tersebut. Oleh karena itu, data dan informasi terkini mengenai karakteristik biofisik lahan, tata air, dan sosial ekonomi kelembagaan DAS Bribin adalah perlu dan sangat bermanfaat. Manajemen basis data yang baik diperlukan sebagai bentuk dukungan untuk pihak-pihak yang memerlukan data untuk pengelolaan dan pengembangan DAS Bribin. Selaras dengan maksud dan tujuan kegitan tersebut, Bappeda sudah mengintegrasikan dengan SDGs dalam penyusunan Review Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah 2005-2025, Salah satu misi dalam RPJPD dimaksud adalah Mewujudkan Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.
Bupati Gunungkidul yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Ir. Khairuddin menyampaikan bahwa pemanfaatan sumberdaya air baik yang ada di dalam tanah atau yang ada di permukaan perlu optimalisasi teknologi dan penelitian. Model untuk pemanfaatan sumber daya air tersebut harus meliputi observasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi. Keberadaan sumber daya air di DAS Bribin sangat mendesak untuk dikelola secara bersama dan juga sosial ekonomi yang ada di sekitarnya. Kesepahaman mengenai tata kelola DAS Bribin dan Geopark diharapkan dapat membangun sinergi dan integrasi dalam tata kelola sumber daya air, dan tidak terlepas konservasi, tata air berkelanjutan, sosial ekonomi kelembagaan di sekitar wilayah DAS Bribin.

Acara dilanjutkan dengan Talkshow dengan menghadirkan 4 (empat) narasumber yaitu: Dr. Tjahjo Kumolo Adji (UGM), Sri Suhartanta, SIP, M.Si. (Kepala Bappeda Kabupaten Gunungkidul), Ir. Asti Wijayanti, MA (Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul), Jatmiko Sutopo, ST, MT (Kepala Bidang Pembinaan dan Penataan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Gunungkidul). Adapun sebagai Moderator Talkshow adalah Ani Adiwinata Nawir, PhD. dari CIFOR (Center for International Forestry Research).

Setelah diskusi dalam Talkshow peserta melanjutkan diskusi kelompok untuk masing aspek yaitu Biofisik Lahan, Tata Air dan Sosial Ekonomi Kelembagaan. Peserta kegiatan ini adalah multipihak yang mempunyai komitmen kuat terhadap pengelolaan dan pengembangan DAS Bribin antara lain Organisasi Perangkat Dearah termasuk Kecamatan dan Kepala Desa di dalam Kawasan DAS Bribin.
Adapun kegiatan ini merupakan kerjasama antara Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS) yang berkedudukan Surakarta, Bappeda Kabupaten Gunungkidul dan CIFOR (Center for International Forestry Research) yang berkedudukan di Bogor. Sedangkan sebagai koordinator acara adalah Kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda Kabupaten Gunungkidul Bambang Riyanto, SE, MT. (BR)