MASTERPLAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERKANTORAN DI SIRAMAN MENJADI PEDOMAN PEMBANGUNAN KAWASAN

Hits: 11

Kelanjutan dari hasil survei lapangan, selanjutnya dilakukan pembahasan materi melalui workshop pengembangan kawasan perkantoran di Siraman pada tanggal 14-15 Februari 2019 di Hotel Jambu Luwuk, yang dilanjutkan pembahasan teknis pada tanggal 15 Maret 2019 di Gedung Departemen Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM. Pada pertemuan tersebut juga ditemukenali permasalahan, kendala, tantangan dan ancaman pengembangan kawasan perkantoran di perkotaan  Wonosari. Selain itu, juga mengetahui arahan kebijakan pengembangan kawasan perkantoran baik secara filosofi, teknis, ekonomi, sosial dan budaya terwujud penataan ruang kompleks kawasan perkantoran yang baik; serta mengetahui arahan konsep desain kawasan, gaya arsitektur bangunan dan kriteria  rancang bangun masing-masing gedung OPD. Lebih lanjut hasil workshop dan permbahasan teknis nantinya akan menjadi dasar dalam penetapan rencana tapak (siteplan) skalatis. Kesepakatan siteplan skalatis ini nanti akan dijadikan dasar dalam penyusunan SK Bupati tentang Penetapan Luasan dan Tapak Kawasan Pengembangan Kawasan Perkantoran di Siraman.  Dengan adanya SK Bupati diharapkan nantinya terdapat kejelasan kepastian dan konsistensi di dalam perencanaan, dan pembangunan kawasan perkantoran Siraman.

SISTEM TATA AIR

Disampaikan oleh tim penyusun bahwa berdasarkan hasil survey geodesi diperoleh beberapa ketinggian kontur tertinggi 182,5 m dan terendah 173,022 m dengan arah utara ke selatan. Sehingga didapat selisih ketinggian dari titik tertinggi ketitik terendah sebesar 9,478 m dan luas total site sebesar 98.000 m2. Hal ini menguintungkan karena dapat dibuat system drainase dan kolam retensi sebagai pengendali genangan di kawasan perkantoran tersebut. Analisis Perhitungan Kebutuhan Luas OPD,  dengan menggunakan KDB sebesar 35% didapat luas yang dapat dibangun dalam kawasan sebesar 34.300 m2. Dengan menggunakan asumsi tiap OPD berjumlah 2 lantai dan masing-masing persil OPD memiliki KDB maksimal sebesar 40%, maka didapat jumlah total luas sebesar 28.172 m2. Sehingga menurut hitungan, dengan KDB 35% sudah dapat mengakomodasi semua kebutuhan OPD. Total kebutuhan luas keseluruhan (OPD ditambah fasum) sebesar 33.422 m2 sehingga KDB yang memungkinkan untuk memenuhi luas tersebut adalah KDB 35% yang memiliki jumlah luas 34.300 m2. Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan ruang, kawasan ini dapat dibagi menjadi 39 persil dengan luas persil berkisar 550 m2 sampai dengan 2.200 m2 dan memiliki 5 fasilitasparkir, 4 fasilitas umum, dan 30 OPD.

Lebih lanjut karakteristik kawasan secara garis besar akan dibagi menjadi 2 zona perkantoran (utara dan selatan), dengan batas berupa jalan eksisting serta zona fasilitas umum. Zona fasilitas olahraga diletakan di luar zona perkantoran memanfaatkan lapangan olahraga eksisting.  Dengan pertimbangan zero-run-off , air yang jatuh di dalam kawasan sebisa mungkin akan diolah kembali atau diresapkan kedalam tanah kembali melalui kolam-kolam retensi, titik serapan dan biopori yang tersebar di kawasan.  Demikian pula dengan air dari kegiatan perkantoran (grey-water) akan diolah dan digunakan kembali melalui fasilitas IPAL. Guna meningkatkan image kawasan maka direncakan akan dibuat akses jalan baru 4 lajur berupa boulevard yang membentang di sebelah utara kawasan yang tersambung ke jalan ringroad dengan jarak kurang lebih 800 m.