SEMINAR DAN PAMERAN PANGAN POLTEKKES KEMENKES DAN IPB

Hits: 0

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Gunungkidul menggelar seminar dan pameran pangan, kegiatan tersebut diselenggarakan pada hari Selasa 14 Januari 2020 bertempat di Ruang Rapat 1 Bappeda  Jln Satria No 3 Wonosari, Gunungkidul. Seminar ini terselenggara atas kerjasama Bidang Penelitian  Pengembangan dan Pengendalian Bappeda  dengan Politeknik Kesehatan Yogyakarta dan tim peneliti IPB.

Tema yang diusung dalam seminar dan pameran tersebut adalah “Pangan Terlupakan Untuk Protein Masa Depan, Studi Kasus di Gunungkidul Yogyakarta”. Seminar dihadiri oleh wakil  OPD terkait antara lain Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Camat Girisubo, Camat Gedangsari, Kepala Desa Pucung, Kepala Desa Mertelu, Puskesmas, tokoh masyarakat dan tim food fair dari Desa Mertelu dan Desa Pucung.

Seminar dibuka oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bapak Sri Suhartanta S.IP.,M.Si. Dalam sambutannya beliau menyampaikan terima kasih kepada Poltekkes dan IPB yg telah fokus berkenan melakukan penelitian di Gunungkidul. Lebih lanjut disampaikan bahwa konsumsi pangan merupakan kultur budaya yang telah berkembang. Selama ini masyarakat terutama generasi tua telah mengajarkan dan memiliki kearifan lokal yang tinggi dengan mengolah serta mengkonsumsi pangan lokal yang ada disekitarnya. Melalui penelitian ini harapannya dapat mengidentifikasi dan mendorong serta mengembangkan sumber-sumber pangan yang terlupakan guna dijadikan acuan dalam pola pembinaan masyarakat untuk ketahanan pangan.

Sementara itu tim peneliti IPB yang terdiri dari Dr. agr. Eny Palupi, STP.,M.Sc., Prof Ikeu Tanziha, Prof Faisal Anwar, Prof Ali Khomsan dan dari Poltekkes Dr. Made Alit G. Secara bergantian tim peneliti menyampaikan bahwa kondisi  saat ini yang dihadapi masyarakat yaitu berkaitan dengan masalah gizi ganda, stunting, wasting dan penyakit tidak menular. Lebih lanjut dipaparkan bahwa satu dari empat balita dunia mengalami stunting hal ini akibat dari rendahnya konsumsi protein, seperti diketahui sumber protein dapat berasal dari hewani maupun hayati, dan sumber protein ini tersedia dilingkungan masyarakat.

Gunungkidul memiliki topografi yang dapat mewakili Indonesia yaitu agraris dan maritim serta memiliki kearifan lokal dan sumber daya yang terjaga dengan baik. Masyarakat telah terbiasa mengkonsumsi pangan yang terlupakan sebagai sumber proteinnya antara lain dari protein hewani yaitu balalang goreng, ulat jati/johar, ungkrung, laron, tawon, puthul keong sawah, dll. Sedangkan sumber protein yang bersumber dari hayati yaitu tempe bengguk, tempe koro, tempe manding, tempe klenthang, tempe gembus, dll. Pangan yang terlupakan ini banyak dikonsumsi oleh generasi pertama  dan kedua (kakek-nenek, ayah-ibu), sedangkan untuk generasi ke-3 dan ke-4 yaitu anak dan cucu belum terbiasa mengkonsumsi. Melalui penelitian ini diharapkan generasi melenial dapat berperan dan ikut menggalakkan konsumsi sumber protein yang terlupakan, tidak hanya diingat namun ikut melakukannya. Seminar diakhiri dengan melihat pameran pangan sekaligus menikmati pangan yang terlupakan…. (jal-in)