Workshop Membangun Keluarga Tangguh: Dari Riset Menjadi Kebijakan

Hits: 0

Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) memaparkan tentang SDM Unggul
Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) memaparkan tentang SDM Unggul

Bappeda Kabupaten Gunungkidul menghadiri kegiatan Workshop Membangun Keluarga Tangguh: Dari Riset Menjadi Kebijakan di Auditorium G-100 Fakultas UGM yang diselenggarakan oleh Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Pendudukan DIY pada 9-10 Januari 2020. Worskhop ini bertujuan untuk memasyarakatkan pembangunan ketahanan keluarga sesuai amanat Undang Undang Nomor 52 Tahun 2009 dan Perda DIY Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pembangunan Ketahanan Keluarga. Ketahanan Keluarga sendiri mengandung makna kondisi keluarga yang memiliki keuletan, ketangguhan dan mengandung kemampuan fisik materiil serta psikis mental spiritual guna hidup mandiri, mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. Workshop ini dihadiri narasumber pakar Psikologi UGM, BKKBN Pusat serta Prof Silvya Asay dari University of Nabraska Amerika Serikat yang sudah puluhan tahun mengadakan penelitian mengenai masalah ketahanan keluarga di puluhan negara.

Deputi  Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) dr M Yani mewakili Kepala BKKBN Pusat Dr dr H Hasto Wardoyo SpOG menyampaikan bahwa untuk mencetak Sumber Daya Manusia Unggul tentu melibatkan banyak sektor. SDM Unggul ini tidak hanya soal kepintaran, tetapi berkaitan dengan karakter. Yani menyatakan berbicara pendidikan dan karakter maka sudah seharusnya semuanya dimulai dari keluarga. Sebab, mencetak SDM unggul yang berkarakter tidak hanya saat duduk di bangku pendidikan, tetapi sejak dari keluarga. “Sudah harus dimulai dari keluarga. Ini tidak akan terwujud jika keluarganya berantakan, sebaliknya mereka bisa dihadirkan dari keluarga yang berkualitas atau kalau di masyarakat disebut sebagai keluarga tangguh,” ucapnya.

Diskusi Kelompok mengenai penanganan masalah ketahanan keluarga
Diskusi Kelompok mengenai penanganan masalah ketahanan keluarga

Untuk membentuk keluarga tangguh ini sering digambarkan sebagai Keluarga Indonesia. Meskipun definisi keluarga tangguh ini antara satu keluarga dengan keluarga lain berbeda. Sementara Keluarga Indonesia atau Keluarga Pancasila selama ini mengacu sesuai dengan konsep-konsep keluarga menurut UU No 52 Tahun 2009. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa Keluarga Berkualitas adalah Keluarga Berketahanan dan menjalankan 8 fungsi keluarga, yaitu keluarga-keluarga yang menerapkan fungsi agama, fungsi budaya dan fungsi sosio-ekonomi. Selain itu, mereka juga menjalankan fungsi cinta kasih, fungsi keamanan, fungsi reproduksi, serta keluarga yang senantiasa menjalankan fungsi-fungsi lingkungan.

Pendapat senada disampaikan Rohdiana, M.Sc, Plt. Kepala Perwakilan BKKBN DIY. Menurutnya, Keluarga Berketahanan adalah keluarga yang memiliki nilai-nilai keluarga. Nilai-nilai tersebut adalah kebersamaan, nilai rasa saling ngemong, nilai-nilai berbasis budaya dan saling berempati. Pada keluarga diharapkan timbul rasa aman dan tentram bagi seluruh anggota keluarga, dan perlu dikaji lagi mengenai penerapan filosofi keluarga jawa Among rasa di DIY. (ns)

Materi Workshop dapat diunduh di link berikut: bit.ly/BKKBN-KeluargaTangguh